Sabtu, 17 Maret 2012

Cahaya Cinta
(Yohanes 3:14-21)

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Aanak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yg kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelematkannya oleh Dia. Barang siapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barang siapa tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barang siapa yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi barang siapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Seorang gadis kecil berusia empat tahun menderita sakit berat. Ia menderita suatu penyakit aneh yang jarang terjadi. Satu-satunya harapan adalah transfusi darah. Dan donor yang paling memungkinkan, yang golongan daranya cocok, adalah saudara lelakinya yang berusia enam tahun. Dokter ahli anak yang menangani kasus ini dengan hati-hati berbicara kepada anak lelaki itu: “Adik kecilmu sedang sakit. Dan kami pikir andaikan kami dapat mengambil sedikit darahmu dan memasukkan ke dalam tubuh adik perempuanmu, maka ia akan menjadi lebih baik. Apakah engkau mengizinkan kami mengambilnya?” Bocah kecil itu sejenak dan kemudian ia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Beberapa hari kemudian ketika anak lelaki itu kembali bersama dengan orangtuanya mengunjungi saudarinya, mereka bertemu dengan dokter ahli anak itu. Dokter itu berkata kepadanya: “Sungguh mengagumkan! Darahmu telah menyelamatkan adik perempuanmu. Dia telah menjadi lebih baik sekarang”. Tetapi, mata bocah kecil iu mulai berkaca-kaca dan tiba-tiba ia menangis. Dokter menanyakan kepadanya, apa yang terjadi? Dia bertanya: “Kapan saya akan meninggal?” Rupanya selama ini ia percaya bahwa dirinya akan meninggal kalau ia menyumbangkan darahnya untuk adik perempuannya. Namun, sekalipun demikian ia tetap bersedia menyumbangkan darahnya.
          Bacaan Injil hari Minggu ini berbicara tentang kasih semacam itu. “begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa. Melainkan beroleh hidup yang kekal”. Percaya kepada Sang Putra dan kepada Sang Bapa, tidaklah selalu mudah. Mengapa? Saya mencoba menerangkannya sebagai berikut: Dunia yang diciptakan Allah mempunyai siklus yang berputar dari kelahiran, kematian dan kehidupan baru lagi. Proses berganti dengan sungguh mengagumkan! Ini terjadi pad tumbuhan-tumbuhan, hewan , manusia dan juga pad bumi itu sendiri. Umpamanya, bila satu bagian dari bumi ini longsor, pad bagian lain lahar dimuntahkan dari perut bumi untuk menyiapkan tanah yang subur bagi generasi yang akan datang. Namun, proses yang mengagumkan ini dapat membinasakan dan menyakitkan orang yang langsung terkena dampaknya. Bagi mereka yang kehilangan harta benda dan orang-orang yang dikasihinya akibat letusan gunung berapi, bagi merka yang kehilangan bahkan kematian dari sanak saudara bahkan anak-anaknya dalam peristiwa itu, bagi mereka yang menderita karena penghancuran ekologi, kiranya sungguh sulit, bahkan sungguh tak mungkin untuk melihat rencana Allah di balik semuanya itu. Tetapi, Allah begitu mengasihi dunia sehingga sekalipun ia tidak dapat mengubah gejala alam dunia ini, ia menunjukkan bahwa ia tidak bersikap acuh dan masa bodoh. Ia sungguh peduli. Karena itu Ia mengirim Putra Tunggal-Nya untuk menjadi bagian dari dunia ini dan Dia pun menderita dengan sangat memilukan. Kristus yang Ia kirim menunjukkan kepad kita dengan kata dan teladan tempat kita mesti menemukan kebebasan kita; yaitu di dalam diri-Nya (dalam menerima penderitaan dengan rela bila hal ini tidak terelakkan).
          Yesus datang ke dunia sebagai Terang, “tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripad terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barang siapa yang berbuat jahat, ia membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak”.
          Bagi orang banyak, tikus adalah lambang dari sesuatu yang kotor dan tersembunyi. Baru-baru ini, saya berada di sebuah rumah dan anak-anak baru saja menangkap seekor tikus dengan sebuah perangkap. Saya bertanya kepada mereka apa yang akan mereka lakukan dengan tikus itu. “Kami hanya membiarkannya di bawah sinar matahari dan ia akn mati dalam waktu singkat”, jawab merka. Makhluk yang bias hidup di dalam selokan, tempat kotor dan penuh kuman, tidak bertahan hidup di bawah sinar matahari.
          “Tetapi barang siapa yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan di dalam Allah” Kebenaran-kebenaran Allah yang besar, penuh misteri dan menakutkan itu perlu dibaw ke dalam terang. Kebenaran-kebenaran itu selalu ad di san sebagaimana sinar matahari ad dibalik awan. Memang sukar bagi kita untuk percaya bahwa ad sinar matahari selama angin topan berkecamuk, begitu juga sukar bagi kita untuk percaya kepad kasih Allah pad waktu ad malapetaka dan bencana.
          Meditasi adalah sebuah proses yang memungkinkan kita untuk memiliki “mata ketiga”. Meditasi tidak membuat kita melihat sesuatuyang berbeda dari biasa yang kita lihat, tetapi untuk melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda! Itulah fungsi “mata ketiga” kita. Melihat dengan cara yang berbeda! Di dalam meditasi kita membawa sisi gelap hidup kita ke dalam cahaya kasih Allah di mana sisi gelap diri kita akan mati seperti halnya dengan tikus yang ditaruh di bawh sinar matahari. Di dalam meditasi kita akan mengetahui Allah yang mau memberikan hidup-Nya untuk kita, seperti anak laki-laki dalam kisah di atas. Ya, kita akan tahu bahwa Allah mengasihi kita dalam segala situasi hidup kita termasuk dalam pengalaman yang menyakitkan. Dan itu tentu hanya mungkin kalau kita memiliki “mata ketiga”. Sebuah mata yang membuat kita melihat dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang lain. Dan mata itu kita peroleh dengan bermiditasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar