Sabtu, 17 Maret 2012

LEGENDA POHON BAMBU
(Yohanes 12: 20-35)

Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di galilea, lal berkata kepadanya; “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus. Tapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barang siapa yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di duni ini, ia akan memliharanya untuk hidup yang kekal. Barang siapa yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barang siapa yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari surga: “Aku telah memuliakan-Nya dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” Orang banyak berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa bunyi itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.” Jawab Yesus: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan keluar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Ini dikatakan-Nyauntuk menyatakan bagaimana caranya ia akan mati. Lalu jawab orang banyak itu:” Kami telah mendengar dari hukum Taurat, bahwa Mesias tetap hidup.
          Stelah kita menyadari situasi batin kita, maka sekarang kita dihadapkan dengan pilihan injil barusan kita dengar tadi. Dapatkah kita mengusir pedagan dan penukar uang dari hati kita atau apakah kita mencoba membuang Kristus yang mencampuri penyembahan berhala kita? Inilah soal yang banyakdihadapi oleh kebanyakan kita yang melakukan meditasi. Kita semakin menyadairi kejahatan dalam hati kita. Ini dapat berupa ketidakmampuan untuk mengampuni, ketidakjujuran dalam berdagang, perselingkuhan, memanipulasi orang atau eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab. Dengan kesadaran ini, apakah kita mencoba membuang kejahatan dengan segala risikonya ataukah kita mencoba membuang Yesus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar